Selasa, 19 Januari 2010

Raja Putih di Kotak Hitam

Raja Putih di Kotak Hitam
Oleh: Fandi Hakim

Pada suatu kerajaan
raja dan ratu memimpin perang
para prajurit siap berkorban
dibentengi benteng kokoh
satria berkuda sedia melompat tuk menyerang
sedang sang uskup yakin dengan strategi perang

Lawan terlihat jelas di depan
Beda warna tentunya
Kita putih mereka hitam
atau sebaliknya
Tiada abu-abu
tak ada yang munafik
Semua terlihat jelas

Di sini
hitam dan putih hanyalah jubah
pembeda kita dan bukan kita
bukan baik atau buruk
Bisa saja putih terlaknat
pabila pemimpin khianat

Jika tak sekedar aturan permainan
Anggaplah punya arti filosofis
Putih adalah Islam dan hitam adalah kafir

Raja putih
Mengiaskan bahwa raja itu bersih
Sungguh perbuatan yang amat mulia
Mengayomi dan melindungi rakyatnya

Kotak hitam
Merupakan singgasana sang raja
Tempat duduk tuk mengurusi rakyat
Bukan kursi tuk bersenang-senang

Raja putih di kotak hitam
Pancarkan cahaya di atas gelap
Laksana pelita dalam gulita
Masyhur fi al-ardh1 wa masyhur fi as-sama’2,
Insya Allah

Pangkep, 13012010

------------------------------------------
1 Populer di pentas bumi
2 dikenal luas dan populer bagi penghuni langit
1 dan 2 diambil dari buku Logika Agama karangan M. Quraish Shihab halaman 23

Senin, 11 Januari 2010

Cerpen - Nyanyian Pinggir Kali, Dawet, dan Mendoan

Nyanyian Pinggir Kali1, Dawet2, dan Mendoan3

Oleh: Fandi Hakim



Langit sore mulai tampak menghampiriku. Aku tetap mengalir. Didendangkan sebuah nyanyian pinggir kali oleh seorang pemuda desa. Indah sekali.

Di kala malam aku pun tertidur. Menemani para petani yang lelah bekerja. Sembari mengeluarkan suara gemericik aku bermimpi. Mimpi mengunjungi saudara-saudaraku yang ada di kota.

Pagi hari membangunkanku, lalu bercerita tentang makhluk sebangsaku yang ada di hilir. Sambil mengecap mendoan dan meneguk dawet, jelmaan pagi bercengkrama serius sebelum mulai memacul. Hitam pekat katanya.

Aku sempat tak percaya. Kejam sekali khalifah yang ada di sana. Mereka apakan saudaraku sehingga sekujur tubuhnya lebam menghitam? Keyakinanku semakin bertambah saat kutatap lukisan karya Tuhan di langit cerah pasca-hujan. Karya Tuhan yang berwarna-warni itu memantulkan bayang wajah pertiwi di mukanya. Bayangbayang gelap tertangkap cahaya, terimaji kesedihan dan luka mendalam dari para sahabat dan teman karib di kompleks industri.

Tebal asap cerobong pabrik menjebol paru-paru bening saudara kandungku. Pekat limbah merkuri menggagalkan ginjal jernih sahabat karibku. Gumpal sampah perumahan menyumbat nadi kehidupan kerabat dekatku. Bising deru transportasi memecah gendang telinga tetangga jauhku. Tak ayal, gundul hutan rimba ikut-ikutan berbuat onar menelanjangi tubuh bersih teman lamaku.

Oh, sungguh kasihan nasib sungai-sungai buangan. Mereka sekarat dalam nestapa. Berduka cita sampai musnah. Memelihara sekaligus dipelihara oleh kejam zaman.

Apa yang harus kuadukan kepada Tuhan? Aku, kami, memang ditakdirkan tuk diatur, bukan mengatur. Namun... Ah, aku kehilangan kata-kata. Yang kubisa hanya diam. Pasif, tapi normal.

”Tuhan, aku takut bernasib sama dengan mereka, menanggung derita tanpa akhir bahagia. Tanpa kawan, layaknya tiada. Bahkan, ikan-ikan pun lebih memilih meregang nyawa ketimbang hidup setengah-mati.”

Saat binatang mamalia yang kehausan tak sudi lagi meminumku, saat rumput ilalang mulai jarang; itulah saat kehangatan pergi meninggalkanku. Tak terdengar lagi suara merdu biduan udik dengan genjreng gitar akustik yang mendendangkan nyanyian pinggir kali, tak ada lagi dawet dan mendoan yang kukecap bersama para petani di tiap generasi.

Nyanyian Pinggir Kali, akan selalu tetap mengutuk tangan-tangan yang mementingkan diri sendiri dan yang tak menghargai karya Tuhan, sampai akhir zaman. Berjuang bersama dawet dan mendoan demi keaslian dan keasrian desa tercinta.

------------------------------------------
1lagu ciptaan teman penulis, Ikonfa Naro
2minuman khas Banjarnegara, Banyumas
3makanan khas Purbalingga, Banyumas

Pangkep (Tabo-Tabo), 10012010

Puisi - KETIKA

KETIKA
Oleh: Fandi Hakim

Ketika
pemikiran menjadi beku
kebekuan mulai berpikir

Ketika dakwah terhenti
Bukan...
Jangan katakan dakwah terhenti!
akan tetapi berhenti
Mengapa?
....
....
....
”Klok... Klok.... Klok.... Klok...”
Kesadaran malasku pun terbangun
Nurani menonton iblis menari
Jiwa sesatku dipenjara waktu
Ketika mimpi bangkit dari tidur panjang
Mati surikah qalbuku?
Yang kutahu
aku sedang binasa dalam gelap angan
Tak terlihat oleh mata yang buta
bahkan oleh mata yang melihat
Karna kemunafikan menutupinya

Pangkep (Tabo-Tabo), 09012010

Minggu, 10 Januari 2010

Kata-Kata Motivasi dan Tanda Tangan Mas Gege untukku di kumpulan cerpen Kupu-Kupu Rani

Kata-Kata Motivasi dan Tanda Tangan Mas Gege untukku di kumpulan cerpen Kupu-Kupu Rani

kudapatkan karna karyaku yang berupa puisi yang berjudul KETIKA masuk 7 besar, atau 8 besar ketika ada 1 lagi yang masuk

Training of Recruitment IV FLP (Forum Lingkar Pena) Sulsel
Pangkep (Tabo-Tabo), 8 - 10 Januari 2010